Manusia sejak dilahirkan telah dibentuk menjadi makhluk yang memiliki peran ganda. Sebab, selain memiliki keinginan menjadi makhluk individu, manusia sekaligus dibentuk menjadi makhluk sosial yang selalu membutuhkan bantuan dari orang lain. Peran serta orang lain dalam kehidupan seseorang, merupakan akibat dari perbedaan kepentingan dan kebutuhan dari masing-masing individu. Persamaan terhadap tujuan yang ingin dicapai dalam kehidupan, merupakan salah satu faktor bagi sejumlah indivudu untuk membentuk suatu komunitas atau kelompok sosial. Dan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia, dilakukan proses interaksi sosial, baik antar individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok.
Setiap komunitas yang terbentuk, tentu akan merumuskan sebuah sistem nilai yang mengatur dan mengikat bagi anggota-anggotanya. Sistem nilai yang telah dilaksanakan secara berulang-ulang dan dijaga eksistensinya secara turun temurun akan menjadi tradisi. Tradisi dalam kamus bahasa Indonesia diartikan dengan adat kebiasaan turun-temurun dari nenek moyang yang masih dijalankan dl masyarakat; penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yg telah ada merupakan yg paling baik dan benar.[1]
Perkembangan zaman akan membawa perubahan-perubahan terhadap pola interaksi sosial. Dalam melakukan aktivitasnya, manusia tidak lagi menjalin hubungan dengan masyarakat wilayah lokal saja, melainkan juga telah menjalin hubungan dengan masyarakat luar. Implikasi dari perilaku ini adalah masuknya budaya-budaya baru yang terkadang bersinggungan dengan nilai-nilai adat. Hal ini tentunya menimbukan sikap beragam dari masyarakat adat sendiri, jika nilai-nilai baru tersebut sesuai dengan apa yang diyakininya maka terjadi akulturasi budaya, namun tidak jarang terjadi penolakan tegas terhadap nilai-nilai baru tersebut karena dipandang bertentangan dengan adat istiadat yang mereka yakini selama ini.